PALU (DEADLINEWS.COM) – Diskusi akhir tahun yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Tengah, Kamis (27/11) di Kota Palu, menyoroti tingginya ketidakadilan ekonomi, kemiskinan, serta tingkat pengangguran di daerah tersebut.
Kegiatan bertema “Mengurai Benang Kusut Investasi Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Sulteng” itu terselenggara melalui kolaborasi antara PWI Sulteng dan Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tengah.
Salah satu pembicara, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulteng, Miftachul Choit, menegaskan bahwa potensi sumber daya alam yang besar belum optimal dimanfaatkan.
“Sulteng tidak hanya kaya nikel, tapi juga salah satu daerah penghasil kakao terbesar di Indonesia. Sayangnya potensi ini belum benar-benar dimaksimalkan,” kata Miftachul.
Ia juga menyoroti kecilnya porsi Dana Bagi Hasil (DBH) nikel untuk daerah. Dengan nilai ekonomi nikel sekitar Rp570 triliun, Sulawesi Tengah hanya memperoleh sekitar Rp200 miliar.
Pembicara lain, Ketua Apindo Sulteng Wijaya Chandra, mengkritik fokus investasi yang masih didominasi sektor pertambangan.
Menurutnya, visi Gubernur Sulteng untuk memperkuat sektor pertanian perlu dukungan regulasi yang terintegrasi dari pusat hingga daerah.
“Saya baru bertemu investor di Tiongkok, dan mereka melihat Indonesia punya potensi, tapi regulasinya harus satu komando,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Dinas Penanaman Modal dan PTSP Sulteng, Teguh Ananta, menjelaskan bahwa investasi yang masuk masih bersifat padat modal sehingga tidak memberi dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Peneliti dan akademisi Universitas Tadulako, Ahlis Djirimu, menilai bahwa permasalahan regulasi, arah investasi, dan struktur ekonomi harus segera dibenahi agar pembangunan lebih inklusif.
“Tanpa perubahan orientasi pembangunan dan perbaikan tata kelola, kekayaan Sulteng hanya akan dinikmati segelintir pihak, sementara kemiskinan tetap menghantui,” tegasnya.
Keempat pembicara sependapat bahwa tingginya nilai investasi yang sebagian besar menyasar sumber daya alam—mulai dari nikel, emas, bijih besi, bebatuan, hingga sektor pertanian dan perkebunan—belum berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Hingga Maret 2025, jumlah penduduk miskin di Sulawesi Tengah tercatat 356,19 ribu orang atau 10,92 persen dari total penduduk 3.219.494 jiwa. Angka itu turun dibanding 358,33 ribu orang pada September 2024 dan 11,77 persen pada Maret 2024. Total penduduk terdiri dari 1.652.891 laki-laki dan 1.566.603 perempuan, dengan 1.075.065 Kartu Keluarga (KK).
Dari sisi ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2024 mencapai 2,94 persen atau sekitar 49,61 ribu orang.
Data Februari 2024 menunjukkan bahwa lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yakni 6,84 persen.
Data historis Februari 2020 menunjukkan tenaga kerja di Sulteng masih didominasi lulusan SD ke bawah (40,98 persen), sedangkan lulusan Diploma I/II/III merupakan kelompok terendah dengan 2,74 persen.
Di sisi lain, realisasi investasi Sulteng terus menunjukkan tren positif. Pada Januari–September 2023, realisasi investasi mencapai Rp83,61 triliun, dengan target akhir tahun sebesar Rp111,68 triliun. Sebagian besar investasi mengalir ke Kabupaten Morowali, Morowali Utara, Donggala, dan Kota Palu.
Tahun 2024, target yang ditetapkan mencapai Rp111,68 triliun dan berhasil dilampaui dengan realisasi Rp111,98 triliun. Investasi asing mendominasi dengan nilai Rp107,21 triliun, terutama dari industri logam dasar di kawasan Morowali. Sementara itu, investasi dalam negeri tercatat Rp4,77 triliun.
Untuk tahun 2025, realisasi investasi hingga triwulan III tercatat Rp33,4 triliun, meningkat dibanding periode sebelumnya.* FRE
