Menteri Agama Tekankan Keberkahan, Peran Pesantren dan Keteladanan Ulama dalam Haul ke-58 Guru Tua di Palu

PALU (DEADLINEWS.COM) – Menteri Agama Nasaruddin Umar menghadiri peringatan Haul Akbar ke-58 Guru Tua, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, yang digelar di Kompleks Alkhairaat, Jalan Sis Aljufri, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (1/4). Kegiatan berlangsung khidmat dan dihadiri ribuan jemaah dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam sambutannya, Menteri Agama menegaskan bahwa kehadiran umat dalam haul merupakan bagian dari ikhtiar spiritual yang sarat makna dan tidak akan pernah sia-sia. Ia menekankan bahwa tradisi bershalawat serta mengenang para ulama adalah amalan yang selaras dengan ajaran Islam dan menjadi jalan meraih keberkahan hidup.

“Maka itu Bapak-Ibu sekalian, kehadiran di sini tidak rugi. Justru inilah yang kita cari dalam hidup, yaitu keberkahan. Allah dan para malaikat-Nya senantiasa bershalawat kepada Nabi, maka sudah sepatutnya kita sebagai umat juga memperbanyak shalawat,” ujar Menteri Agama.

Menag juga mengingatkan pentingnya menjaga kecintaan kepada ulama serta meneladani tradisi keilmuan yang memiliki sanad hingga Rasulullah SAW. Menurutnya, para ulama dan wali merupakan pewaris ajaran Nabi yang terus hidup membimbing umat.

“Para wali dan ulama itu berguru kepada Rasulullah. Ilmu itu bersambung, tidak terputus. Karena itu, siapa pun dan apa pun bisa menjadi sumber pembelajaran bagi orang yang hatinya bersih dan terbuka,” tambahnya.

Selain itu, ia menekankan nilai keutamaan mendoakan sesama sebagai amalan yang berdampak luas dan akan kembali kepada diri sendiri dalam bentuk kebaikan.

“Jangan pernah merasa rugi mendoakan orang lain. Doa itu akan kembali kepada kita dan menjadi amal yang nyata, bahkan setelah kita tiada,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga menyampaikan kebanggaannya terhadap tradisi pendidikan pesantren. Ia mengisahkan perjalanan pendidikannya sebagai alumni Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang hingga melanjutkan studi ke berbagai perguruan tinggi di luar negeri, seperti di Tokyo, Kanada, Belanda, dan Amerika Serikat. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa pesantren memiliki kapasitas besar dalam membentuk karakter sekaligus melahirkan generasi yang mampu bersaing di tingkat global.

Menag turut menyinggung nilai adab dalam tradisi keagamaan, termasuk praktik berdiri saat pembacaan Shalawat Badar yang berkembang di kalangan Nahdlatul Ulama. Ia menilai tradisi tersebut bukan sekadar simbol, melainkan bentuk penghormatan yang lahir dari kesadaran spiritual mendalam.

Pada momen itu, Menteri Agama juga mengajak seluruh jemaah untuk bershalawat bersama. Suasana haul pun dipenuhi lantunan Shalawat Badar yang menghadirkan kekhusyukan dan keharuan di tengah ribuan jemaah.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan pendidikan keagamaan, Kementerian Agama menyerahkan bantuan sebesar Rp200 juta kepada Perguruan Islam Alkhairaat.

Tak hanya itu, dalam rangkaian kegiatan tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar juga dinobatkan sebagai anggota kehormatan Alkhairaat bersama sejumlah tokoh lainnya.

Peringatan haul ini tidak hanya menjadi ajang mengenang jasa dan perjuangan Guru Tua, tetapi juga memperkuat ukhuwah Islamiyah serta menegaskan kembali peran pesantren sebagai pusat pendidikan karakter dan spiritual masyarakat.* FRE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *