Palu (deadlinews.com) – Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, terus memperoleh apresiasi positif dari berbagai kalangan, termasuk akademisi atas gaya kepemimpinannya yang dinilai adaptif, inklusif, dan kolaboratif.
Di tengah kompleksitas dinamika pemerintahan daerah, kemampuan membangun sinergi lintas sektor dipandang sebagai kunci dalam mendorong percepatan pembangunan.
Model kepemimpinan kolaboratif tersebut dinilai mampu menciptakan ruang kerja sama yang sehat antara pemerintah daerah, birokrasi, serta berbagai elemen masyarakat. Pendekatan ini juga dianggap relevan dengan tantangan pembangunan Sulawesi Tengah yang membutuhkan keterlibatan dan sinergi banyak pihak.
“Menurut saya Gubernur Anwar Hafid adalah sosok pemimpin yang lebih mengutamakan kolaborasi,” kata Pengamat Politik Universitas Tadulako (Untad), Muhammad Khairil, Sabtu (24/1).
Selain mengedepankan kolaborasi, Anwar Hafid juga dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat. Kehadirannya di tengah warga, baik dalam kegiatan formal maupun informal, dinilai memperkuat citra kepemimpinan yang membumi dan responsif terhadap aspirasi publik.
Kedekatan tersebut dipandang sebagai modal sosial yang penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah. Kepemimpinan yang diterima secara luas diyakini mampu memperkuat stabilitas sosial serta mendukung keberhasilan program-program pembangunan.
“Beliau merupakan pemimpin yang sangat populis, merakyat, dan juga diterima oleh masyarakat secara keseluruhan,” jelas Khairil.
Di sisi lain, pendekatan populis Anwar Hafid tidak mengesampingkan aspek rasionalitas dan perencanaan berbasis data. Dalam menjalankan roda pemerintahan, ia dinilai mampu menerapkan prinsip-prinsip teknokrasi yang menekankan efektivitas, efisiensi, serta pengambilan kebijakan yang terukur.
Keseimbangan antara pendekatan teknis dan empati sosial tersebut menjadi ciri khas gaya kepemimpinan Anwar Hafid. Hal ini menunjukkan bahwa keberpihakan kepada rakyat dapat berjalan seiring dengan tata kelola pemerintahan yang profesional.
“Selama ini juga beliau selalu menunjukkan kepemimpinan yang sangat teknokrat. Beliau mampu menyeimbangkan semua karakter tersebut,” tuturnya.
Dari sisi internal pemerintahan, Anwar Hafid juga dinilai berhasil membangun hubungan kerja yang harmonis dengan jajaran birokrasi. Relasi yang solid antara pimpinan daerah dan aparatur sipil negara dipandang sebagai fondasi penting dalam menjalankan kebijakan secara efektif.
Iklim kerja yang kondusif di lingkungan birokrasi dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya kinerja organisasi perangkat daerah serta pelayanan publik yang lebih optimal kepada masyarakat.
“Hubungan kepemimpinan beliau di internal birokrasi sangat baik menurut saya dari aspek yang kami lihat selama ini di tengah masyarakat,” imbuh Khairil.
Lebih lanjut, Anwar Hafid dinilai memiliki kemampuan mengelola dinamika kepentingan di lingkungan birokrasi secara proporsional. Berbagai pandangan diakomodasi tanpa mengorbankan arah kebijakan strategis pemerintah provinsi.
Pendekatan tersebut dinilai mencerminkan kepemimpinan yang inklusif dan matang, sekaligus menunjukkan kapasitas Anwar Hafid dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas internal dan agenda pembangunan daerah.
“Beliau mencoba mengakomodir berbagai kepentingan di tingkat internal birokrasi di tingkat provinsi,” tandasnya.* FRE














