Audiensi Gubernur dan PMII Sulteng: Dorong Sinergi Gerakan Mahasiswa dengan Program BERANI

Palu (deadlinews.com) – Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menerima audiensi jajaran Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sulawesi Tengah yang dipimpin oleh Muhammad Fadhel, di ruang kerjanya, Kamis (30/10).

Pertemuan tersebut dilakukan dalam rangka persiapan pelantikan pengurus baru PMII Sulteng yang mengusung tema “Rekonstruksi Gerakan PMII Menuju Era Baru Bergerak dan Berdaya.”

Dalam kesempatan itu, Ketua PKC PMII Sulteng, Muhammad Fadhel, memaparkan sejumlah gagasan strategis, mulai dari dukungan terhadap program BERANI Cerdas, hingga inisiatif gerakan literasi dan advokasi sosial di tingkat desa.

Ia menjelaskan bahwa PMII tengah menggagas pembentukan Taman Baca Masyarakat dan desa literasi sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan minat baca dan pemberdayaan masyarakat di akar rumput.

Gubernur Anwar Hafid menyambut baik ide tersebut dan menegaskan bahwa gerakan mahasiswa memiliki peran penting dalam mendukung sembilan program unggulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, terutama BERANI Cerdas dan BERANI Berdering.

“Sinergi ini harus terus kita bangun. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan semua pihak, termasuk dari mahasiswa dan organisasi pergerakan seperti PMII,” ujar Anwar.

Ia menambahkan, program BERANI Cerdas tidak hanya berfokus pada pengurangan biaya pendidikan, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Kalau kita sudah bantu biaya sekolah, tapi minat baca rendah, maka hasilnya tidak maksimal. Karena itu, saya sangat mendukung ide PMII untuk membentuk desa literasi atau Desa BERANI Cerdas,” tambahnya.

Lebih lanjut, Anwar menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi saat ini tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperluas akses digital melalui program BERANI Berdering, yang menargetkan pemerataan jaringan internet hingga ke wilayah pegunungan pada tahun 2026.

“Kami sudah MOU dengan Telkomsat agar jaringan internet bisa menjangkau sekolah dan puskesmas di daerah terpencil,” jelasnya.

Selain membahas isu pendidikan, pertemuan tersebut juga menyinggung persoalan pertambangan dan keadilan fiskal daerah. Anwar menegaskan komitmennya memperjuangkan pembagian hasil tambang yang lebih adil bagi daerah penghasil.

“Kita harus tahu berapa sebenarnya produksi dan ekspor dari perusahaan-perusahaan tambang di Sulawesi Tengah. Jangan sampai kita hanya menerima angka di atas kertas tanpa kejelasan dasar perhitungannya,” tegasnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan regulasi perpajakan antarwilayah yang berdampak pada optimalisasi penerimaan daerah.

“Daerah lain bisa memperoleh pajak dari hasil industri, sementara kita hanya dikenakan di tingkat bahan mentah. Ini harus kita perjuangkan agar regulasinya diperbaiki,” ujarnya.

Dalam aspek lingkungan, Anwar menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan kelestarian alam. Ia mengaku telah mengumpulkan para pengusaha tambang dan meminta mereka memastikan sungai-sungai di sekitar tambang tetap jernih.

“Saya bilang, silakan menambang asal sungai jangan merah. Kalau air sungai berubah warna, berarti ada yang tidak beres. Ini harus jadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Menutup pertemuan, Anwar mengajak mahasiswa untuk terus aktif mengawal kebijakan publik melalui kajian yang kritis dan ilmiah.

“Saya sangat berharap teman-teman PMII membuat kajian singkat tapi tajam, lalu kirim ke Kapolda, Panglima, Kejaksaan, dan juga ke saya. Ini menjadi dasar kuat untuk kami bertindak. Kajian mahasiswa adalah peringatan dini bagi pemerintah,” pungkasnya.* FRE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *