Palopo (deadlinews.com) – Aktivis Pemuda Kristen di Kota Palopo, Sulawesi Selatan mengkritisi kinerja aparat kepolisian khususnya jajaran Polres Palopo yang dinilai lamban menangkap para pelaku yang merusak Gereja Toraja Jemaat Sion Lappo di Kelurahan Lebang, Kecamatan Wara Barat, Kota Palopo.
Kritik pedas terhadap kinerja aparat penegak hukum di Kota Palopo tersebut diungkapkan, Ade Fadli Sapan Kasi’. Ia menilai kinerja aparat kepolisian di Kota Palopo, sangat lamban dalam mengungkap dan menangkap para pelaku yang merusak rumah ibadah di Lappo.
“Pengrusakan rumah ibadah di Lappo itu, sudah berulang kali dilakukan oleh para pelaku yang terlibat tawuran dan saling serang di sekitar lokasi Gereja Toraja Jemaat Sion Lappo. Namun hingga saat ini polisi belum bisa mengungkap dan menangkap para pelaku yang merusak rumah ibadah dan rumah warga di sana,” kata Ade, Selasa (2/6).
Lebih lanjut, mantan Badan Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (BPC GMKI) Palopo tersebut, menegaskan bahwa jika tindakan kriminal semacam itu tidak segera diungkap dan pelakunya tidak ditangkap oleh aparat penegak hukum, maka hal demikian sangat fatal.
“Kalau para pelaku tindakan kriminal yang menyasar rumah ibadah tidak segera diungkap dan ditangkap, maka itu kesalahan fatal yang dilakukan aparat penegak hukum. Persoalan semacam ini rentan diplintir oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, menjadi issu SARA,” tegas Ade.
Selain itu, Ade mendesak jajaran Polres Palopo untuk segera mengendalikan situasi di wilayah Kelurahan Lebang, karena di sekitar rumah ibadah yang dirusak oleh para perusuh tersebut, sudah berbulan-bulan menjadi semacam gelanggang perang antar kelompok pemuda Lappo dengan kelompok pemuda Lebang.
“Polres Palopo harusnya bisa mengendalikan situasi di sana. Karena yang saling serang itu kan antar kelompok pemuda yang masih satu wilayah kelurahan. Lokasi tawurannya juga di sekitar rumah ibadah itu juga. Dengan mensiagakan personil Polres Palopo di sana setiap saat atau patroli rutin pada jam-jam rawan tawuran, kan konfliknya bisa diantisipasi,” kata mantan Ketua Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Cabang Palopo tersebut.
Dalam kesempatan ini, Ade juga meminta Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Djuhandani, untuk mengevaluasi Kapolres Palopo AKBP Dedi Surya Darma yang dinilai lamban menangani atau mengendalikan situasi perang antar kelompok yang sejak awal Januari 2026 marak terjadi pada sejumlah titik di Kota Palopo.
“Sejak awal tahun 2026 di wilayah Kota Palopo ada sejumlah titik yang langganan perang antar kelompok pemuda, seperti yang terjadi di Kecamatan Teluwanua dan Kecamatan Bara di sana langganan perang antar kelompok pemuda Kelurahan Buntu Datu dengan pemuda Kelurahan Batu Walenrang, selain itu perang antar kelompok juga terus berulang antara kelompok pemuda RW 3 dengan RW 4 di Kelurahan Pentojangan. Kalau Kapolres Palopo, tidak mampu menangani konflik semacam itu, berarti jaminan keamanan dan ketertiban bagi masyarakat Kota Palopo tidak ada. Jadi Pak Kapolresnya harus dicopot,” harapnya.
Sebagai informasi, perang antar kelompok pemuda Lappo dengan kelompok pemuda Lebang sudah berlangsung lama, dan intensitasnya meningkat dua bulan terakhir. Tawuran antar kelompok ini, selalu terjadi di sekitar lokasi Gereja Toraja Jemaat Sion Lappo, sehingga rumah ibadah tersebut, selalu jadi sasaran pelemparan batu dan busur para pihak yang bertikai. ESRA





















